vic’s blog

February 27, 2008

“ekonom itu orang hebat :p”

Filed under: Musik — vicknuril @ 4:45 am

hehe…

Lagi – lagi ttg ekonomi, sperti aq bilang kmaren2, emang ekonomi tuh sumber dari segala sumber obrolan sekaligus masalah. oke, langsung saja, “ekonom itu orang hebat :p”. sebentar, itu bukan maksud maksut memuji loh.

Begini, lagi – lagi sepengetahuan saya. Sepengetahuan saya yang namanya ilmu ekonomi itu kalau sudah tingkat lanjut, saya yakin pasti ekonomi itu tak ubahnya seperti matematik. Aplagi ekonomi keuangan dan makro, pasti, dijamin itu banyak rumus – rumus dan persamaan – persamaan gak jelas di sana. dari sini, itu artinya ekonom itu sudah mengantongi dua predikat, sebagai orang yang ahli ekonomi dan ahli matematik dan kalkulus. wah hebat… tepuk tangan…

Kebanyakan mahasiswa ekonomi juga seperti itu, jadi mereka akan lebih merasa bangga dan merasa nyaman dengan masa depannya kalau mereka menguasai itung – itungan makro ekonomi yang canggih – canggih. Mereka akan  merasa risih atau gak betah kalo dihadapkan pada tema – tema ekonomi layaknya ekonomi kerakyatan atau ekonomi pembangunan. Dan lebih anenya lagi, keliatan aneh saat ada mahasiswa yang concern pada ekonomi kerakyatan atau ekonomi pembangunan.

Wal hasil, buku – buku ekonomi pembangunan seperti buku “Ekonomi Dunia Ketiga dan Teori Pembangunan” – nya Todaro tidak akan lebih menarik dibandingkan dengan buku – buku ekonometri, seperti “Basic Econometrics” – nya Gujarati, “Econometrics” – nya Maddala, Johansen, ataupun Haris. Padahal, buku – buku itu tuh isinya total rumus – rumus ekonomi yang dahsyat, yang hanya dapat dihitung dengan software pemrograman matematik yang bahasanya rumit, seperti mathlab, eviews, sahzam, minitab, dan program sejenisnya. Wah sampe disini, ekonom itu sudah memiliki tiga keahlian hebat, dua sebelumnya adalah ekonomi dan matematik, ditambah sekarang keahlian programming. WOW…. Hebat..

Mereka itu mungkin ngrasa hidup di amrik kali ya. Apa – apa serba komputer, serba software, serba bahasa mesin, serba coding. Oh ya, ini ni yang lucu, jadi saat mereka melakukan itung2an ekonomi datanya tuh didapetin dari IFS CD ROM ato www.ifs.org, yaitu lembaga statistik yang bernanung di bawah IMF. Everyone knows lah, “siapa si IMF?”. Ngrasa aneh ga, jadi nganalisis negara sendiri, berhubungan kelengkapan data kurang, datanya dari luar.

Sekarang begini, ini hubungannya dengan tema ekonomi kemarin “Wo alah yo… yo… urip kok soyo angel…”. Saya pengen tegaskan sekali lagi, dan ini bisa direnungkan oleh siapa saja, “ekonomi kita, ekonomi Indonesia, itu bukanlah ekonomi yang dapat dianalisis dengan hanya mengandalkan data – data makro dan itung – itungan canggih ala barat”. Ekonomi itu mutlak merupakan multidisiplin ilmu, banyak disiplin – disiplin ilmu lain yang “HARUS” dilibatkan didalamnya. Jadi ekonomi itu bukan “EKONOMIMETRI = Ekonomi dan Ekonometri”. Parahnya, sekarang ini ekonomi kita banyak yang dikendalikan oleh sistem – sistem ekonomimetri. Ya maklum lah, kan ekonom – ekonom kita lulusan sekolah – sekolah ekonom barat, ya lumrah klo mereka pulang “mempraktikkan” ilmunya.

Ingat, banyak dari data – data kita yang diragukan kevalidannya, gak sama dengan kondisi sebenarnya. Bukannya meragukan kualitas BPS, tapi ya kita bisa lihat sendiri berapa besarnya negeri kita ini, sementara taraf kemajuan kita masih seperti ini – ini saja, ya apa ya mungkin kita bisa mengumpulkan satu data yang benar – benar merepresentasikan kondisi masyarakat sebenarnya.

Waktu terus berjalan dan sistem tetap demikian, ya sudah dirasakan saja, dinikmati saja, kondisi kita ya bakalannya tetep seperti ini saja. Gak bakalan ada perkuatan fundamental ekonomi.

Oh iya, mungkin gini aja deh, dari obrolan di atas kita kan udah dapet beberapa terminologi, yaitu sekolah barat, data – data barat, dan praktik barat, semua serba barat kan. Jadi sebenarnya untuk beralih, ya tinggal ganti aja beberapa kata barat itu jadi sekolah barat, data – data indonesia, dan praktik indonesia. Logis kan…, kalo sekolah dibarat (memang sana lebih maju dari kita, kita cari ilmu disana) abis itu kita praktikkan dengan menyesuaikan dengan keadaan sini.  Jadi bukan memaksakan ilmu pada kondisi, tapi lebih kepada memaksakan kondisi pada ilmu, sehingga efeknya ya perubahan kondisi itu.

Sekarang gini aja, klo semuanya serba kebarat – baratan, dan ngrasa nyaman dengan kebarat – baratan, wah.. wah.. wah… ada apa ini. Nekolim kah ini?

February 25, 2008

ngeDrum: paradiddle

Filed under: Musik — vicknuril @ 4:15 am

Mungkin kita akan terheran – heran pas ngliat mike “dream theter” portnoy ato travis “blink 182” barker lagi atraksi solo drum. Kedua drummer ini mempunyai kecepatan tangan yang luar biasa. diperlukan latian yang reguler dan intensif untuk sampai ke sana.

langsung aja deh, disini akan aku bagi2 tips dasar untuk ngeDrum. yah, mungkin hampir semua orang tau tentang teknik ini, makanya teknik ini cuman ditujukan untuk aku sendiri dan drumer2 rookie kayak aku.

Ini ni, aku ada teknik yang namanya Paradiddle, ini ne…

Single Paradiddle:  R L R R L R L L

Double Paradiddle: R L R L R R L R L R L L

Triple Paradiddle: R L R L R L R R L R L R L R L L

Paradiddle – diddle: R L R R L L R L R R L L   L R L L R R L R L L R R

Nah itu tu, klo dilatih dengan taraf ketlatenan masimum dan intensif. Kemudian klo udah bisa dikombinasiin antara satu sama yang lain. Yakin deh, jadi drummer keren deh.

oh iya, yang R itu artinya yang kanan pukul, yang L itu yang kiri mukul, nah yang R ato L yang dicetak tebel itu mukulnya dikencengin.

yah mudah – mudahan berguna… hehe..

February 21, 2008

Liga Indonesia dan 16 Besar Liga Champions

Filed under: Soccer — vicknuril @ 1:30 am

Wah ini perhelatan seru yang ditunggu-tunggu pecinta bola sejagad… 16 besar liga champion yang mempertemukan klub – klub raksasa dunia. Di sana banyak klub – klub kaya, dengan pemain – pemain bintang yang bergaji super mahal, denga stadion yang “wah”, dan dengan suasana stadion yang nyaman dan aman.Saya berandai – andai, coba salah satu pemain kita ada yang main di situ, betapa bangganya. Apalagi kita mempunyai liga yang sekualitas dengan itu, aduh…. rasanya rugi permanen jika gak nonton bola. tapi yang namanya andai ya andai.

Yang menjadi uneg – uneg saya adalah, masa sih masyarakat bola Indonesia terutama seluruh jajaran pengurus persepakbolaan Indonesia tidak tergugah sama sekali saat melihat tontonan semacam itu. Kalopun tergugah, kok ya ligaIndonesia ya seperti ini – ini saja. Apalagi tim nas-nya. Waduh….

Kalau berbicara bola, sepengetahuan saya sebagai rakyat kecil, itu adalah tanggung jawab seluruh masyarakat pemain, klub, supporter, media, seluruh masyarakat dan PSSI tentunya. Sepak bola di Negeri ini sebenarnya mempunyai potensi yang luar biasa besar, luar biasa dahsyat, dari segi bisnis dan industri juga luar biasa bukan main – main. Dari segi pasar? dibandingkan dengan negara eropa barat manapun, kita jauh lebih banyak. Supporter fanatik? tidak ada lagi yang meragukan kefanatikan theJak, Aremania, Viking, dan supporter – supporter fanatik lain. Pemain? negara kita ini masyarakatnya ratusan juta, masa iya gak ada pemain bagus dari orang sebanyak itu.

Pendeknya, negeri ini mempunyai seluruh persyaratan – persyaratan untuk mempunyai liga yang hebat sbagaimana liga – liga di Eropa Barat atau Amerika Latin. Yang jadi masalah, bagaimana caranya???

Janganlah kita sepenuhnya menyalahkan PSSI, walaupun dalam kenyataan PSSI merupakan penangungjawab utama hal ini. Kita berangkat saja dari Klub. Kita bisa lihat dengan jelas, berapa klub – klub di Liga Indonesia yang hidup dari dirinya sendiri, yang bisa ikut liga tanpa back up APBD, yang mampu mengontrak pemain asing ataupun pelatih, lebih dari 3 tahun, yang mampu membangun stadion-nya sendiri sehingga klo hujan tidak seperti kolam. Klub mana itu?

Bandingkan itu dengan klub – klub eropa? Bukan apa2 klub kita ini, sama sekali bukan apa2. Kok bisa seperti itu? malah klo dalam pandangan saya, itu adalah hal yang tidak dapat diperbandingkan. Mengapa? karena klub luar itu adalah klub bola dan klub – klub (walaupun tidak semua) kita itu sebenarnya bukan klub bola, tapi lebih pada sekedar proyek Pemda. Kok bisa? Coba kita beredel satu – satu, dana dari klub kita ini didapatkan dari APBD, dana hibah tepatnya, stadionnya juga milik Pemerintah Daerah, Status klubnya juga milik Pemerintah Daerah, Pengurusnya sebagian juga dari kalangan Pemerintah Daerah. Klo sudah seperti itu masa ya ga boleh klo dibilang proyek Pemda. Wong ya kemarin sudah terbukti, pas keluarnya Permendagri 59/2007, yang isinya larangan untuk membiayai klub sepak bola, klub – klub pada geger.

Kalo caranya begitu, proyek klub – klub itu sifatnya hanya setahunan, yang penting adalah bagaimana tahun ini, tahun depan belakangan (tunggu berapa APBD-nya dulu). Makanya jangan heran klo kontrak kebanyakan setaun, kualitas stadion ya itu2 saja, dan pemain – pemain asing-nya ya sekelas itu2 saja.

Untuk beralih dari kondisi ini jelas, klub tidak boleh bergantung terhadap APBD lagi. Swastanisasi klub. Klub harus menjadi sebuah entitas perusahaan yang berdiri sendiri yang tidak dapat hidup jika hanya diam. Biar, APBD biar untuk membangun infrastruktur lain, yang alih – alih secara tidak langsung juga nantinya akan mempunyai imbas terhadap dunia sepak bola.

Ini adalah tugas PSSI untuk mengundang investor mempromosikan klub. Banyak yang dapat diiming-imingkan kepada investor, salah satunya adalah market. Pasar peminat bola di negeri ini yang sangat besar dan supporter – supporter fanatik yang loyal.

Dan tugas klub adalah mengatur bagaimana klub dapat survive dan mengembangkan skalanya. Klub dapat mempunyai sebuah rencana jangka panjang, baik dari segi bisnis ataupun sepakbola-nya sendiri.

Tugas supporter adalah mengalihkan atau merubah definisi fanatik. Fanatik bukan berarti ngamuk saat klub-nya kalah, apalagi membakar atau merusak stadion, lebih konyol lagi yang dirusak adalah stadion sendiri. Fanatik bukan berarti harus tiap waktu nonton walopun harus tanpa tiket. Fanatik bukan berarti berkostum klub kebanggaan, tapi kostum itu bajakan. Fanatik semacam itu adalah fanatik yang egois, fanatik yang hanya menginginkan kemenangan dan kesenangan pribadi tanpa peduli kondisi yang diidolakan.

Fanatik yang ideal adalah fanatik yang dapat menimbulkan adanya rasa memiliki dan peduli terhadap klub. Artinya, fans benar – benar mengerti kebutuhan klub, sehingga baik secara langsung atau tidak, ikut menjada dan merawat serta membesarkannya. Praktiknya, supporter ikut merawat stadion dengan cara menonton dengan tertib tanpa menimbulkan sesuatu yang dapat merusak fasilitas stadion. Supporter ikut membantu keuangan klub, dengan membeli tiket untuk menonton dan membeli souvenir – souvenir resmi dari klub.

Pendeknya, dengan merubah kesadaran dan pemahaman kita tentang kebutuhan persepakbolaan nasional, saya yakin sepak bola kita akan berubah menjadi lebih baik.

February 20, 2008

Woalah Yo… Yo… Urip Kok Soyo Uangel..

Filed under: Ekonomi — vicknuril @ 9:51 am

Saya adalah bagian dari masyarakat kecil, rakyat kecil lah istilah politiknya pengennya sih cuma harga – harga kebutuhan pokok murah. Terserah lah presidennya siapa, apa rezimnya, gimana bentuk demokrasinya, apa sistem perekonomian yang dipraktikkan, serta seperti apa kebijakannya, yang penting harga – harga murah.”Woalah Yo… Yo… Urip Kok Soyo Uangel..” itu adalah tag line yang saya di lihat di mural (lukisan dinding) di salah satu sudut kotaYogya. Benar, mural itu sangat merepresentasikan nasib sebagian rakyat kita. Sebenarnya, gak kurang jumlah doktor – doktor bahkan profesor – profesor ekonomi gemblengan sekolah – sekolah ekonomi besar. Tapi kok dari merdeka sampe sekarang sepertinya sama saja, apalagi akhir – akhir ini.

“Ekonomi tumbuh 6%, 6,5%, 7%, inflasi dapat ditekan 1%, 0,9 %, 0,6%…” Itu saja mungkin bentuk perbaikannya. Klo ekonomi memang tumbuh, itu tumbuh yang mana??? klo inflasi turun, itu turun yang mana??? Lagian juga info – info yang seperti itu juga gak semua warga negeri ini ngerti. Info – info seperti itu hanya bermanfaat untuk para pelaku ekonomi yang besar – besar alias ekonomi konglomerasi. Selebihnya, saya kira manfaatnya nol.

“Ekonomi tumbuh 6%, 6,5%, 7%, inflasi dapat ditekan 1%, 0,9 %, 0,6%…” itu pertumbuhan yang mana??????? inflasi turun, itu inflasi yang mana????? Heran… Bangga banget ya ekonom – ekonom berkata seperti itu. Mungkin mereka ngerasa hidup di Amrik kali ya, yang manajemen data base-nya sudah baik, displin dan benar. Kalau di Amrik lumrah, saat pengampu kebijakan bilang ekonomi tumbuh 5 % ,ya kurang lebih dalam kenyatan 5 % itu juga yang terjadi.

Nah… klo di sini, coba apa mungkin petugas – petugas BPS mencatat berapa penghasilan mbok – mbok dan pengecer – pengecar yang dipasar, petani – petani dan peternak – peternak kecil, dan industri – industri rumahan. Nggak kan? padahal usaha – usaha seperti itulah yang 90% lebih ada di negeri kita. Kalau begitu, berarti secara makro mereka sudah terlewat dalam pencatatan. Kalau dalam pencatatan saja mereka sudah terlewat, ya jelas, artinya dalam kebijakan sedikit banyak terlewat juga.

Pendeknya, ekonom – ekonom itu lupa kalau ekonomi negeri ini itu ada dua, yaitu perekonomian besar dan perekonomian kecil dan mikro. Memang ada perhatian untuk UKM. Di negeri ini juga ada yang namanaya Kementrian KUKM. Tapi, seperti apa sih bentuk lembaga itu. Sekarang bisa dicoba disurvei, siapa Menteri Keuangan Vs siapa Menteri KUKM? saya berani bertaruh menteri KUKM lebih tidak populer dibanding menteri keuangan. Karena menteri tersebut jarang masuk media umum.

Memang dunia UKM tidak banyak menarik, entah karena kuenya kecil atau apa, tapi coba deh. Terus-terusan aja seperti ini, nomor duakan UKM dan momong terus usaha – usaha besar, saya yakin negeri ini tidak akan lebih bagus dari kondisi sekarang ini.

“Bank Indonesia menurunkan suku bunga SBI dalam rangka menggenjot sektor riil”…. Sektor yang seperti apa?? Ingat! mayoritas pelaku ekonomi negeri kita ini tidak hanya butuh bunga kredit murah. Suku bunga yang murah hanya akan menyenangkan pelaku ekonomi menengah ke atas. Karena mereka mampu melengkapi semua persyaratan pengajuan kredit. La kalo pelaku usaha kecil mikro???

Disamping itu, pelaku usaha mikro ini juga membutuhkan pendampingan, asistensi, dan pengawasan intensif. Memeperkenalkan aspek – aspek menajerial, akuntansi, teknologi, dan perbankan. Jadi kalau cuma suku bunga kredit murah, tanpa dibarengi kebijakan lain yang nyata – nyata memihak UKM (tidak setengah – setengah baik by design atau dalam praktik), penurun suku bunga itu adalah mempunyai dampak nol besar bagi rakyat banyak.

Sebenarnya masih banyak lagi uneg – uneg saya tentang erekonomian negeri ini. Ini baru dari secuil sudut pandang UKM loh. Mash banyak sudut pandang lain yang tidak kalah “lucu”-nya dengan ini. Tapi ya sudahlah, sekali lagi rakyat kecil, ya bisanya cuma gini aja, kita tunggu aja sapa tau ada keajaiban yang bisa ngrubah haluan negeri ini. Amin…

Blog at WordPress.com.